GUS DUR MOTIVATOR HANDAL, SAINGAN MARIO TEGUH

“Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value.”
-Albert Einstein
“Kamu lagi nonton apa sih?” tanyaku pada teman yang sedang melihat layar laptopnya dengan headset di salah satu telinganya. Temanku langsung melirikku dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya, “Ssshhtt..aku lagi nonton Mario Teguh nih.” “Memang Pak Mario lagi bahas apa?” tanyaku kembali. “Lagi bahas tentang masa depan. Udah ah..mau nonton dulu.”
Aku yang sedang kelelahan karena membaca Jurnal Psikologi yang berbahasa Inggris langsung saja duduk di sebelah temanku dan mengambil salah satu headsetnya, ikut mendengarkan apa yang Pak Mario Teguh katakan.
“Bagaimana caranya menjadi pribadi yang lebih berani?” ucap Pak Mario Teguh. Aku tersenyum, itu masalah yang banyak di hadapi anak muda pada saat ini, berani. Aku melanjutkan untuk mendengarkan, “Ok. Bedanya dulu. Orang berani, bertindak, orang penakut, tidak. Jadi caranya menjadi orang berani? Bertindak. Sederhana sekali. Penakut menunda, pemberani menyegerakan. Jadi caranya jadi orang berani? Menyegerakan. Masukan sederhananya, penting sekali, hadapi, orang berani itu menghadapi. Terus ada yang bilang begini, tapi kan tidak semua yang kita hadapi akan sukses kita laksanakan. Betul. Tidak semua yang kita akan hadapi menghasilkan keberhasilan tapi tidak ada keberhasilan kalau masalahnya tidak anda hadapi.”1
Aku langsung tersenyum sendiri mendengarkan Pak Mario Teguh berkata-kata melalui video yang ada di hadapanku. Aku mendengarkan terus sampai video pendek itu selesai. Kemudian setelah selesai aku segera kembali pada tumpukan Jurnal Psikologi yang harus dikumpulkan esok hari. Selama membaca jurnal-jurnalku, aku mengingat pernah mempunyai teman yang sangat menyukai seorang Gus Dur. Kata-kata pemberani yang diucapkan oleh Pak Mario Teguh mengingatkanku akan cerita temanku yang bernama Jona mengenai seorang pemberani yang pernah ia baca.
Aku mengingatnya bercerita seperti ini, “Eh, kamu tahu nggak tentang banser pemberani?” Sewaktu itu aku menggeleng saja karena memang benar-benar tidak mengerti apa yang temanku itu maksudkan. “Jadi gini lho. Ada tiga presiden di atas kapal pesiar. Ada presiden Indonesia, Gus Dur, lalu ada presiden Amerika, dan ada perdana
menteri Jepang. Nah, mereka tuh pada pamer tentara gitu. Presiden Amerika bilang kalau tentara punya dia bisa keliling kapal pesiar itu 10 kali tanpa berhenti dan memang setelah diperintahkan sama presidennya, si tentara memang berhasil.” Aku yang mulai tertarik pada ceritanya, waktu itu mulai memperhatikan dia dan dia melanjutkan bercerita, “Penasaran kan apa yang dialakukan sama presiden Jepang dan Gus Dur yang waktu itu jadi presiden untuk pamer tentara? Ok. Aku lanjutin deh. Nah, karena nggak mau kalah, si perdana menteri Jepang bilang kalau tentara Jepang bisa keliling kapal 25 kali, jadi 1,5 kali lipat dari tentara Amerika, dan memang si tentara Jepang bisa. Luar biasa nggak tuh?” Aku ingat aku mengangguk-angguk mendengarkan cerita temanku itu. “Lalu kira-kira apa yang bakal Gus Dur bilang untuk pamer kebolehan tentara Indonesia? Gus Dur malu banget karena tentara Amerika dan Jepang beneran berani dan bisa melakukan tantangan yang diberikan presiden mereka. Ayo tebak!” ucapnya memintaku untuk menebak kelanjutan cerita. Aku berbisik pelan karena tidak yakin, “Gus Dur bilang kalau tentara Indonesia bisa keliling kapal 100 kali.” “Em..no.no.no,” ucapnya sembari menggelengkan kepala dan menggerakan jari telunjuknnya di hadapanku. “Salah. Gus Dur nggak bilang berapa kali tentara kita bisa kelilingin kapal. Gus Dur langsung panggil seorang Banser NU yang ikutan di kapal pesiar. Lalu dia jelasin ke presiden kalau laki-laki yang ada di hadapan mereka sekarang itu adalah seorang anggota banser NU, tidak pernah ikut latihan militer resmi, dan akan segera diperintahkan untuk berenang kelilingin kapal pesiar tempat mereka berada saat ini 100 kali.” “Lah tuh kan 100 kali,” ucapku membenarkan tebakanku sebelumnya. Dia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum iseng dan melanjutkan bercerita, “Bentar dulu, aku lanjut cerita dulu. Nah, Gus Dur langsung memerintahkan anggota Banser itu untuk langsung terjun ke latut dan berenang keliling kapal 100 kali. Gus Dur kelihatan percaya diri banget gitu waktu itu. Tapi kamu tau nggak apa yang anggota Banser itu jawab? Si anggota Banser bilang gini, “Ah, Gus bercanda, masak saya disuruh berenang keliling kapal sebesar ini? Saya nggak mau ah. Gila apa?!” Hahaha….,” temanku tertawa terbahak-bahak di hadapanku. “Ha,ha,ha.. Lebih gila kan nih si anggota Banser? Lalu Gus Dur kasih perintah untuk si anggota Banser balik ke barisan. Gus Dur deketin tuh dua pimpinan dari Amerika dan Jepang dan bilang gini, “Sekarang tentara siapa yang lebih berani coba? Pasti lebih berani tentara saya tho. Lha wong perintah saya aja yang presiden nggak dipatuhi? Lihat sendiri kan? Gitu aja kok repot.” Kamu ngerti nggak yak? Itu baru yang namanya pemberani!” ucap temanku setelah selesai bercerita dan kemudian tertawa terbahak-bahak setelah melihat raut wajahku yang baru mulai mencerna apa yang dia ceritakan.
Aku meletakkan jurnal yang tadi sedang ku baca dan tersenyum sendiri mengingat cerita yang disampaikan temanku itu. Cerita yang diceritakan Jona padaku waktu itu sedikit banyak mengubahku. Bukan menjadi anggota Banser yang tidak menuruti perintah presiden tapi aku lebih mendalaminya dengan berpikir bahwa jika orang lain menunjukkan kalau mereka lebih baik dari semua hal yang ada, sebenarnya mereka adalah yang terlemah, dan mereka lah yang membutuhkan bantuan sebenarnya. Mengapa anggota Banser itu berani untuk menolak perintah seorang presiden? Aku berusaha berada di posisi anggota Banser itu yang bahkan tidak menerima pelatihan militer secara resmi, dan diperintahkan berenang mengelilingi kapal pesiar yang besar itu 100 kali. Aku pikir anggota Banser itu selain pemberani, dia juga pandai karena dia benar-benar memahami kondisi dirinya dan paham betul kalau 100 kali mengelilingi kapal adalah hal yang gila, tidak mungkin dia lakukan. Hal itu memotivasiku untuk lebih memahami diriku sebagai diriku, bukan karena ingin seperti si a atau si b aku melakukan sesuatu, tapi karena memang aku benar-benar ingin melakukan itu, tanpa paksaan, dan aku benar-benar mampu untuk melakukannya. Bagaimana mungkin sebuah gurauan seperti itu dapat memotivasi diri seseorang? Hanya mungkin jika itu adalah seorang Gus Dur.
Seandainya sampai detik ini Pak Gus Dur masih ada pasti tidak hanya kata “Super sekali” yang kita dengar di kalangan anak muda setiap hari, tapi juga kata “Gitu aja kok repot” seperti yang Pak Gus Dur selalu katakan. Aku yakin sekali kalau Pak Gus Dur akan menjadi motivator handal yang akan menjadi saingan berat untuk seorang Pak Mario Teguh. Bukan kah begitu?

Ignatia Rohan

1.https://www.youtube.com/watch?v=vJELPFU5C1g – Cara Menjadi Pribadi Yang Lebih Berani-Mario Teguh Success Video

Salah satu tulisan yang berada di buku Anak Muda Bertutur Gus Dur (AMGBD) yang diluncurkan dan dibedah di Gedung Radya Suyasa, Kantor Gubernur DIY pada hari Jumat, 27 November 2015/

Bedah Buku oleh Octo Lampito (Pemimpin Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat), Romo Mulyatno, Pr., Hairus Salim (Direktur LKiS), Ega, Nara, Hesty, dan Sarjoko (Aktivis Gusdurian)

Bahagia masih bisa menulis bersama pemuda-pemuda yang hebat seperti mereka. Bahagia masih bisa mencurahkan pemikiranku bersama dengan mereka selama 10 tahun ini. Aku bersama mereka semenjak aku duduk di bangku kelas 4 SD sampai sekarang aku di tahun 2016, tahun ketigaku mengikuti perkuliahan.

Meskipun semakin lama aku menyadari bahwa akan ada kehidupan lain setelah ini di masa depan, tapi aku tidak akan melupakan mereka. Mereka yang mengajariku untuk melihat sebuah kehidupan dari sisi lain yang mungkin orang lain tidak pernah ingin untuk melihatnya. Mereka yang mengajakku untuk mencicipi dunia dewasa sebelum dunia itu datang menghampiriku seiring berjalannya waktu. Mereka luar biasa.

Terutama koordinator yang paling hebat yang pernah aku temui walaupun aku sering membuat argumen terhadap pendapat-pendapatnya yang tidak sejalan denganku. Koordinator komunitas yang ku ikuti dan editor dari setiap buku atau tulisan yang diluncurkan, Sutrisno Emry atau yang biasa juga dipanggil Mas Emry. Seorang yang mengabdikan diri untuk anak-anak yang entah ingin pergi kemana untuk masa depannya. Melihat talenta yang bahkan orang lain mungkin tidak melihatnya dan memoles hal tersebut untuk menjadikannya lebih berguna dalam kehidupan.

Aku pernah menangis karena merasa tidak mampu saat diminta menjadi moderator sebuah Seminar Nasional Anti Korupsi yang komunitas kami adakan. Tapi karena hal itu, aku menjadi terpacu untuk menjadi lebih baik, bukan untuk orang lain tapi untuk diriku.

Sampai ada kepercayaan, jika anggota komunitasku belum pernah menangis karena Mas Emry, maka belum sah menjadi seorang yang masuk ke tahap berikutnya dalam kehidupan.

Intinya aku bahagia karena dapat bertemu mereka dalam hidupku.:)

Semoga kita bisa selalu berkarya dengan hati kita dimanapun akhirnya hidup meminta kita untuk berkarya.

Advertisements

Hello Worldie!!

  Dua tahun tidak menulis untuk diriku sendiri itu ternyata memang sangat membuat diriku tidak beraturan. Seperti berjalan tapi tanpa tujuan. Tersenyum tapi tanpa arti. Semua hanya dipikirkan tanpa dituangkan. Hingga hari ini aku memutuskan untuk kembali. Entah mengapa dulu aku memutuskan untuk berhenti menulis untuk diriku sendiri? Entah karena ingin fokus dengan yang ku sebut kuliah atau entah karena aku sudah putus asa dan tidak percaya pada diriku sendiri untuk tetap menulis.
Hari ini adalah hari kesekian di usiaku yang ke-20. Aku harap menulis adalah sesuatu yang akan selalu menemaniku. Dalam menulis perlahan aku menemukan diriku sendiri yang selama ini tidak ku ketahui dan menyembuhkan diriku sendiri dari masa lalu yang yah..mungkin sedikit tidak mengenakkan untuk dialami seorang anak yang beranjak remaja.
Aku bukan seseorang yang senang dengan keramaian dan akan lebih memilih tempat sepi untuk menghabiskan waktuku. Aku lebih memilih berkumpul bersama sahabat-sahabat terdekatku yang bahkan jari-jari dalam satu tangan saja tidak habis untuk menghitung mereka. Waktuku bersama sahabatku sering ku sebut dengan healing time karena dari sana aku bercerita dan membuat semua hal yang memberatkan pikiranku perlahan menjadi terasa ringan.
Dari sini aku akan mencoba untuk kembali menulis dengan menuliskan apa yang ku pikirkan dan setidaknya aku tidak akan terlalu merepotkan orang lain untuk hanya mendengarkan ceritaku. Aku sadar bahwa apapun, suatu saat mereka akan memiliki kesibukannya sendiri dan jika masih ada yang membebani mereka seperti ceritaku, aku akan merasa sangat bersalah.
  So, let’s just start it.